lembar

Selasa, 06 Agustus 2013

kata-kata mutiara jalaluddin rumi

Jalaluddin Rumi (1207-1273) adalah salah seorang pujangga terbesar dari Persia. Rumi adalah seorang penyair sufi yang terkenal dengan syair – syairnya yang bertemakan tentang cinta. Syair dan puisi dari Rumi memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan penyair lainnya, dimana fokus syair yang ditulisnya adalah keterkaitan antara cinta dengan ketuhanan.
Kendati telah berusia hampir ribuan tahun namun puisi dan syair rumi tak lekang dimakan waktu. Karya dan tulisan Rumi sendiri konon disebut merupakan revolusi terhadap ilmu Kalam yang mengandung konotasi pengkritikan terhadap filsafat-filsafat yang melampai batas serta mengkultuskan rasio.
Banyak yang membandingkan syair dan puisi cinta dari Jalaluddin Rumi dengan Kahlil Gibran. Keduanya merupakan pujangga cinta, perbedaannya adalah karya-karya dari Rumi banyak memasukkan unsur religi dan ketuhanan sementara Gibran lebih menggunakan perumpamaan terhadap fenomena alam dan sekitarnya.
Situs Kata-kata Mutiara akan menuliskan Kumpulan Syair dan Puisi Jalaluddin Rumi secara terpisah kedalam beberapa bagian. Selamat mengikuti! :-) 

Kumpulan Syair dan Puisi Jalaluddin Rumi (Bagian 5)

Puisi Jalaluddin Rumi“Para pecinta meratap bagai ilalang, dan Cinta adalah peniup seruling. Betapa menakjubkan sesuatu yang dihembuskan oleh Cinta ke dalam seruling jasad ini! Seruling tampak dan Sang Peniup tersembunyi. Sewaktu-waktu serulingku mabuk karena anggur di bibir-Nya. Kadang Dia tidak pedulikan seruling, tapi kadang dia menggigitnya! Ah..! Aku meratap dalam irama lembut seruling yang pecah oleh tiupan Sang Peniup”
“Mati tanpa Cinta adalah kematian yang terburuk dari segala kematian. Tahukah, mengapa tiram bergetar? Tentunya karena mutiara”
“Dalam perpisahan, pecinta bagaikan nama tanpa makna. Tetapi makna -seperti tercinta- tak membutuhkan nama”
“Cinta tak puas dengan seratus janji, karena kecerdikan para pemikat hati banyak sekali. Dan bila pun kaulihat juga seorang pecinta mabuk, bukankah yang rupawan juga ada di kepala si mabuk? Jadilah pengendara cinta, dan jangan takut menempuh jalan karena kuda-kuda cinta cepat larinya”
“Di tangan Cinta aku menjadi penyanyi kasidah sambil bertepuk tangan. Cinta padamu membakar habis segala aib dan nama baik serta segala yang kupunya”
“Kami bersyukur atas cinta ini, ya Tuhan, cinta yang melaksanakan kemurahan tanpa batas. Terhadap kekurangan-kekurangan apapun dalam syukur kami yang mungkin membuat kami berdosa, cinta membuatnya terasa ‘cukup’ hingga pulih kembali laksana sediakala”
“Sang Penjaga Hati tidak akan meninggalkanmu, baik dalam kasih sayang atau kekejaman. Juga dalam kekafiran maupun persaksian. Ke mana pun engau tautkan hatimu pada sesuatu, Keperkasaan-Nya akan merobekmu. Wahai hati, jangan taruh dirimu di sembarang tempat, jangan!”
“”Makhluk – makhluk bergerak karena cinta, yaitu cinta oleh keabadian tanpa permulaan. Sebagaimana angin menari – nari digerakkan kuasa semesta. Karena itu ia pun menggerakan pepohonan”
“Tidak menepati janji adalah karena kebodohan. Menepati apa yang dikatakannya adalah kebiasaan orang bertaqwa kepada Allah dengan rasa cinta”
“Jika kau orang yang menjadi sahabat karibku, kata-kataku tentang hakikat tidak sekedar pernyataan. Jika pada tengah malam aku berkata. “Aku dekat: kemarilah sekarang, jangan takut pada malam, aku masih keluargamu,” kedua penegasan ini nyata buat kau, selama kau mengenali suara kerabatmu sendiri; bahkan lebih dari itu, kegembiraan mendengar suara sanak keluargamu menjadi saksi bagi kehadiran sahabat kesayanganmu yang jujur”
“Allah berfirman, “Sungguh tak pernah ada suatu kaum yang kurang bersahabat dengan Tuhan,” seseorang yang punya kekuatan rohani; dan dia yang membuat burung-burung rohani bernyanyi dengna suara bulat, tulus, bebas dari segala niat jahat. Mereka menjadi kekasih ibu; Muhammad berkata tentang Muslimin, “Mereka seperti satu jiwa.” Melalui Rasulullah mereka menjadi satu; kalau tidak mereka semua adalah benar-benar musuh.”
“Anggur mentah yang sehat, mampu menjadi matang, akhirnya menjadi satu dalam hati dengan nafas pangkal hati. Buah-buahan itu tumbuh cepat menjadi anggur sejati, melarutkan perpecahan dan kebencian dan persengketaan. Maka dalam kematangan semua itu kulit-kulitnya dikoyak-koyak, sehingga semua menjadi satu; persatuan adalah sifat yang utama bagi orang bersatu dengan yang lain”
“Wahai hati, tidurlah dalam pikiran. Sebab pikiran adalah perangkap hati. Jangan pergi menuju Tuhan dengna menyisakan sesuatu yang tidak untuknya, karena itu tidak layak”
“Dalam badai Cinta, akal hanyalah seekor serangga. Karena itu bagaimana mungkin akal menemukan ruang untuk mengembara? Ketika perjalanan mendekati Sidrat al-Muntaha, Jibril meninggalkan Muhammad seorang diri. Ia berkata, ‘Diriku akan terbakar jika harus meneruskan perjalanan. Sebab diriku takkan kuat berhadapan dengan Cinta dan peleburan yang bersemayam di sana”
“Jangan kau cemari bibirmu dengan menciumi setiap mulut dan memakan setiap makanan. Maka bibir kekasih akan menghadiahkan kembukan dan hidangkan semanis gula. Bibirmu akan bebas dari bau bibir-bibir yang lain dan cintamu akan melebur menjadi satu. Cinta suci, dan tiada duanya. Bagi bibir-bibir yang menciumi moncong kedelai, mungkinkan Tuhan Yang Maha Menyelamatkan akan memberkati mereka dengan ciuman?”
“Semua kebutuhan Cinta ada di sini, tapi tiada pesta-pora tanpa-Nya. Segala anggur yang tidak berasal dari kendi Tuhan hanya akan menambah rasa sakit dan kemuakan”
“Bagi para pemilik derajat rohani, apapun yang awalnya hanyalah gambaran. Namun manakala (Tuhan) Yang Tercinta datang maka segalanya menjelma persatuan”
“Tak peduli engkau suci atau tidak, kehendakmu jangan lari! Justru mendekatlah, karena kedekatan dengan-Nya menambah kesucian”
“Para pecinta pasti mencari Yang Dicintai. Pencarian itu memancar di atas wajah dan kepala mereka bagaikan aliran air yang deras menuju gelombang-Nya. Tapi, sesungguhnya hanya Dia-lah Sang pencari. Kami ibaratnya hanyalah bayang-bayang”
“Langit berputar disebabkan para pecinta. Dan roda-pun berputar demi Cinta. Bukan karena tukang roti atau pandai besi, juga bukan karena tukang kayu atau ahli obat. Langit berputar mengelilingi Cinta. Ia menjulang, karena itu kita dapat mendakinya! Perhatikan, ‘Jika bukan karena engkau, tidak akan Kuciptakan..” Apa yang Tuhan katakan? ‘Muhammad adalah Cinta pilihan-Ku”
Karena waktu, kita berkisaran di sekitar Cinta. Namun kemudian, kita mengelilingi sampah”
“Betapa hati ini kiranya, bila tangan hati mencengkeram tangan kekasih tercinta? Betapa keping tembaga ini tak berharga kiranya, bila didengarkan ‘zat mukjijat’ itu mengucapkan selamat datang padanya?”
“Kekasih yang mengagumkan datang dengan lembing di tangannya, bagai seorang badui pengembara. Aku berkata, “Pengabdian apa yang dapat kuberikan padamu?” Jawabnya, “Mendekatlah kepadaku”
Demikianlah informasi mengenai Kumpulan Syair dan Puisi Jalaluddin Rumi (Bagian 5). Semoga bermanfaat :-)
Koleksi puisi Jalaluddin Rumi sebelumnya:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar